Catatan ini terinspirasi dari aktivitas seminar bersama Pak Butet Kartaredjasa dan teman-teman seniman di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, kemarin pagi. Mendengar kata seminar, bayangan saya menuju pada acara formal dimana ada seorang pembicara di depan, lalu ada banyak pendengar yang nantinya keduanya saling bertatap-muka dan berinteraksi. Lalu di akhir acara ada sesi tanya-jawab antara pendengar dengan pembicaranya.
Namun, di seminar kemarin, terjadi begitu sangat santai. Kami duduk di atas kursi dengan formasi melingkar, dimana pembicara atau Pak Butet duduk bersampingan dengan 25 orang seniman lain. Formasi yang kalau saya maknai bahwa di antara kami tak ada batas atau jenjang. Saya, beliau dan teman-teman seniman lain adalah sama. Sama-sama seorang manusia yang berproses. Dan, kalau boleh menyebut dengan sebutan lain, saya menyebutnya sebagai acara sharing; berbagi. Pagi itu beliau berbagi cerita tentang pengalaman hidup dan berkeseniannya, mencari identitas dirinya dengan masuk dan belajar ke berbagai tempat untuk belajar teater dan lainnya untuk memperkaya dirinya,  yang pada akhirnya beliau memilih seniman sebagai identitas dirinya. Berbagi juga pengalaman tentang bagaimana beliau pada saat dulu, masoh kuliah dan mengikuti seminarnya Putu Wijaya. Dimana saat itu, beliau bersama peserta seminar lainnya diminta melakukan Super Slowmotion selama minimal 60menit untuk menempuh jarang panggung yang berukuran sekitar 8 meter. Karena saking marahnya, beliau berhasil membuktikan bahwa beliau berhasil melakukan yang diintruksikan Putu Wijaya. Berhasil. Namun, saat itu hingga beliau menjadi seorang seniman, Putu Wijaya tak pernah menjelaskan maksud dari Super Slowmotion tersebut. Proses dan proses, beliau memaknai sendiri tentang peristiwa itu. Menurut pemikiran beliau, Putu Wijaya bermaksud mengajak Pak Butet untuk lebih menghargai sebuah proses selain sebuah hasil yang telah dicapai. Sebuah hasil bisa jadi dapat hilang dalam waktu sekejap. Tetapi sebuah proses akan terus terkenang dan teringat . Dan itulah maksud proses dari Super Slowmotion tersebut.
Menyimak cerita tersebut, saya menjadi teringat dengan pertanyaan saya di postingan blog saya beberapa minggu lalu. Kapan titik puncak itu? Bagaimana tituk puncak itu? Titik puncak dimana saya juga akan memilih dan menemukan jati diri yang sebenarnya. Bertanya dan bertanya tentang pertanyaan saya itu semakin pertanyaan itu mengajak saya untuk menikmati semua proses yang saya lalui. “Oya, semua pasti memiliki makna. Seperti halnya tiap detik moment proses yang saya lalui setiap hari ini. Mungkin pada detik itu atau detik ini saya tak tahu makna atas aktivitas yang saya lakukan, entah pahit atau manis saya nikmati saja. Namun, pada akhirnya, kelak, waktu akan mempertemukan saya dengan jawaban atas makna tiap detik moment-moment itu.” Sekian.  



Yogyakarta,
-Dwi Ajeng Vye-

0 Komentar